SURVEI POLMATRIX: Capreskan Anies, Nasdem Merosot di bawah Ambang Batas

Anies Baswedan menjadi nama yang paling mendapat dukungan sebagai calon presiden dalam Rakernas Partai Nasdem baru-baru ini, selain Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa. Sejumlah partai politik lain pun melirik Anies untuk juga didukung dalam Pilpres 2024 mendatang.

Munculnya Anies sebagai capres dari Nasdem membangkitkan wacana politik identitas yang pernah menjadi rekam jejak pada Pilkada DKI Jakarta 2017 silam. Hasilnya, temuan survei Polmatrix Indonesia menunjukkan Nasdem merosot tajam dalam tiga bulan terakhir.

Pada survei bulan Maret 2022 elektabilitas Nasdem mencapai 5,1 persen, tetapi kini anjlok hingga di bawah ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi hanya 3,8 persen. Posisi Nasdem kembali seperti pada setahunan yang lalu yang juga berada di kisaran 3 persen.

“Setelah mengusung Anies sebagai salah satu capres, elektabilitas Nasdem merosot hingga di bawah ambang batas parlemen,” ungkap Direktur Eksekutif Polmatrix Indonesia Dendik Rulianto dalam press release di Jakarta pada Minggu (26/6).

Menurut Dendik, pilihan Nasdem sebetulnya sangat rasional, mengingat figur Anies menjadi alternatif bagi sebagian publik Indonesia. Partai-partai politik pun berharap dapat mendulang coattail effect dengan mengusung Anies sebagai capres untuk koalisi yang bakal dibentuk.

Awalnya, arah dukungan Nasdem kepada Anies memang memberi insentif elektoral, seperti tecermin pada tingginya elektabilitas sejak Desember 2021. Tetapi ketika dukungan resmi diberikan, elektabilitas Nasdem justru mengalami penurunan tajam.

“Pencapresan Anies membuat banyak pendukungnya melihat Nasdem menjadi pilihan, tetapi sebagian di internal Nasdem melihatnya sebagai bangkitnya kembali politik identitas,” jelas Dendik.

Ketua Umum Nasdem Surya Paloh pernah mengusulkan duet Anies-Ganjar untuk mengakhiri polarisasi di tengah masyarakat. Tetapi hal itu sangat bergantung pada koalisi yang terbangun dengan partai-partai lain, lebih-lebih Ganjar masih terikat sebagai kader PDIP.

Posisi unggul masih direbut PDIP dengan elektabilitas 17,8 persen, disusul Gerindra sebesar 12,4 persen. Pada urutan berikutnya diduduki oleh PKB (8,8 persen), Demokrat (8,5 persen), dan Golkar (7,3 persen).

Ditambah dengan PSI (5,4 persen) dan PKS (5,1 persen), praktis hanya tujuh parpol yang elektabilitasnya berada di atas ambang batas 4 persen. “Nasdem masih harus membuktikan apakah pencapresan Anies tidak mengancam semangat restorasi yang diusung,” tegas Dendik.

Sejauh ini partai-partai yang lain belum secara resmi mengajukan nama capres, termasuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). “Selain Golkar, dua anggota KIB masih di bawah ambang batas, yaitu PPP (2,6 persen) dan PAN (1,6 persen),” lanjut Dendik.

Belum ada koalisi lain yang terbentuk, di mana partai-partai masih dalam proses penjajakan dan menampung usulan nama-nama capres. “Strategi mengusung capres berkaitan erat dengan pembentukan koalisi dan dampaknya terhadap perolehan suara partai,” tandas Dendik.

Prediksi terhadap munculnya poros koalisi berangkat dari suara yang diraih pada Pemilu 2019 maupun peta dukungan saat ini. Di luar partai-partai tersebut, tersisa partai-partai kecil maupun yang baru dibentuk untuk mengikuti Pemilu 2024.

Elektabilitas tertinggi masih di kisaran 1 persen, yaitu Partai Ummat (1,4 persen), Gelora (1,2 persen), dan Perindo (1,0 persen). Lainnya adalah Hanura (0,6 persen), PBB (0,3 persen), PKPI (0,1 persen), dan Berkarya (0,1 persen).

Garuda dan Masyumi Reborn nihil dukungan, sedangkan partai-partai lainnya hanya mendapat dukungan 0,9 persen. Tetapi masih ada 21,3 persen yang menyatakan tidak tahu/tidak jawab.

Survei Polmatrix Indonesia dilakukan pada 16-21 Juni 2022 kepada 2.000 responden mewakili 34 provinsi. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error survei sebesar ±2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.