Nasdem Terus Melorot, Demokrat Melejit Pasca-Deklarasi Anies Capres

Harapan Nasdem untuk merebut dukungan pemilih Anies Baswedan masih belum nampak. Temuan survei Polmatrix Indonesia menunjukkan elektabilitas Nasdem masih terus mengalami penurunan usai resmi mendeklarasikan Anies sebagai calon presiden.

Dukungan terhadap Nasdem turun setelah keputusan rakernas Nasdem memutuskan Anies menjadi salah satu capres yang bakal diusung. Setelah dukungan kian mengerucut terhadap Anies, elektabilitas Nasdem kini menjadi sebesar 3,1 persen.

Sebaliknya, Demokrat mengalami lonjakan signifikan usai deklarasi pencapresan Anies. Elektabilitas Demokrat melejit menjadi 11,3 persen, dan berhasil menggeser posisi Gerindra. Meraih peringkat kedua, Demokrat berpeluang mengulang kejayaan masa Presiden SBY.

“Pasca-deklarasi pencapresan Anies, elektabilitas Nasdem terus melorot, sebaliknya Demokrat justru melejit ke peringkat kedua,” ungkap Direktur Eksekutif Polmatrix Indonesia Dendik Rulianto dalam press release di Jakarta pada Sabtu (29/10).

Dalam upaya menggalang koalisi dan mengusung pasangan capres-cawapres, partai-partai politik berharap dapat mendulang coattail effect. Harapannya, figur capres atau cawapres yang didukung bisa menambah perolehan suara partai pada pemilu legislatif.

Hal itu nampak pada alotnya negosiasi partai-partai yang berencana mengusung Anies, hingga rencana koalisi tak kunjung terwujud. “Usulan siapa cawapres yang bakal mendampingi Anies membuat PKS dan Demokrat masih belum sepakat untuk bergabung,” lanjut Dendik.

Dari sejumlah usulan nama kader PKS, mantan gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan makin menguat. Demokrat bersikeras mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sedangkan Nasdem menggodok nama-nama seperti Andika Perkasa dan Khofifah Indar Parawansa.

“Pemilih Anies terutama dari kalangan Islam masih wait-and-see, apakah koalisi yang digagas Nasdem bakal terbentuk agar bisa mengusung Anies pada Pilpres,” Dendik menjelaskan. Jika koalisi gagal terbentuk, diprediksi Anies tidak akan memperoleh tiket untuk berlaga.
Posisi Nasdem juga dianggap ambigu, karena berada di dalam pemerintahan tetapi hendak mengusung figur capres yang dianggap sebagai oposisi terhadap Jokowi. Hal ini berbeda dengan Demokrat, yang memang berada di luar pemerintahan, bersama-sama dengan PKS.

Pemilih yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah berharap pada pencapresan Anies, dan memberi efek elektoral bagi Demokrat. “Jika tercapai duet Anies-AHY, besar kemungkinan Demokrat bakal makin meningkat elektabilitasnya,” tandas Dendik.

PDIP masih unggul dengan elektabilitas mencapai 18,5 persen, sedangkan Gerindra pada peringkat ketiga sebesar 10,8 persen. Berikutnya ada Golkar (8,0 persen), terpaut tipis dengan PKB (7,7 persen).

Lalu ada PSI (5,5 persen) dan PKS (4,7 persen), yang termasuk dalam partai-partai dengan elektabilitas di atas ambang batas 4 persen. Selain Nasdem, beberapa partai Senayan dikhawatirkan gagal melenggang kembali, yaitu PAN (2,5 persen) dan PPP (2,0 persen).
Sisanya adalah partai baru Gelora (1,3 persen), Perindo (1,1 persen), dan Partai Ummat (1,0 persen). Lalu ada Hanura (0,5 persen), PBB (0,4 persen), dan pilihan lainnya 1,4 persen, serta tidak tahu/tidak jawab 20,2 persen.

Survei Polmatrix Indonesia dilakukan pada 17-22 Oktober 2022 kepada 2.000 responden mewakili 34 provinsi. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error survei sebesar ±2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.